Toban Badai Hanna Telan Korban 500 Jiwa

•September 8, 2008 • 1 Comment

Sedikitnya 500 jiwa melayang akibat topan badai Hanna. Sedangkan banjirnya sendiri mulai menyusut.Badai Hanna merupakan badai tropis yang kedelapan selama musim badai di Atlantik. Badai ini pun mulai mendekati pesisir timur Amerika.

“Pertolongan pertama internasional sudah datang, mereka membawa 495 jenazah,” ujar salah seorang petugas kepolisian Haiti seperti dilansir Telegraph.co.uk, Senin (8/9/2008).

“Dengan lebih banyak yang hilang, korban diperkirakan meningkat hingga 500an,” ujar Komisaris Kepolisian Kota, Ernst Dorfeuille.

Tanda-tanda badai yang disertai hujan dengan kerapatan hingga 25 cm di beberapa area dikabarkan dari Georgia samapi ke New Jersey, termasuk Washington DC. Selain itu, badai Hanna juga disertai dengan angin kencang, bergelombang dan kilasan banjir.

Menurut petugas ramalan cuaca, jalan yang merupakan rangkaian untuk melewati pulau Florida Keys menuju teluk Mexico rusak. Dimana di daerah tersebut terdapat sekitar 4.000 peron lepas pantai yang memproduksi seperempat minyak mentah Amerika dan 15% gas alam.

Pengunjung diperintahkan untuk segera evakuasi dari Florida Keys pada Sabtu. Sedangkan penduduk diperintahkan untuk meninggalkan tempat tersebut pada hari Minggu.

Pemerintah Bantah Satpam KJRI Hong Kong Pukuli Buruh Migran

•September 7, 2008 • Leave a Comment

9 Perempuan buruh migran Indonesia dikabarkan mendapat perlakuan kekerasan dari petugas keamanan KJRI di Hong Kong. Mereka dikabarkan dipukuli, disekap bahkan mendapat pelecehan seksual saat berunjuk rasa di Gedung Queen Elizabeth, Hong Kong.

“Tidak ada yang digebuki. Justru malah pendemo yang anarkis,” ujar Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) dan Badan hukum Indonesia (BHI), Teguh Wardoyo kepada detikcom, Minggu (8/9/2008).

Teguh pun menjelaskan kejadian yang sesungguhnya bahwa pendemo mendatangi Gedung Queen Elizabeth, Hong Kong saat Menakertrans Erman Suparno menemui buruh Indonesia di negara tersebut. Pendemo yang berusaha mendekati Erman, dihalangi oleh petugas keamanan Konjen RI hingga akhirnya mereka diminta untuk keluar gedung.

“Kalaupun ada yang berlaku seperti yang dituduhkan, pastinya KJRI juga ada aturannya untuk menindak lanjuti petugas keamanan tersebut. Tergantung derajat perlakuannya,” ujarnya.

Teguh menjelaskan selepas aksi suasana di Gedung Queen Elizabeth kembali kondusif. Seiring dengan usainya acara yang dihadiri Menakertrans, usai pula aksi demo yang dilakukan oleh para TKI di Hongkong ini.

Si Jago Merah Mengamuk di Kemayoran

•September 7, 2008 • Leave a Comment

Si jago merah kembali mengamuk. Kali ini, api berkobar di bawah kolong jembatan gerbang tol Kemayoran, Jakarta Utara.

Api yang berasal dari tumpukan sampah ini mulai berkobar pukul 22.15 WIB. Masyarakat yang panik melihat kobaran api melaporkan hal ini ke Dinas Pemadan Kebakaran Jakarta Utara. Sebelas unit pemadam kebakaran pun diluncurkan ke tempat tersebut.

“Ternyata apinya kecil. Kami terima laporan dari masyarakat melalui telepon,” ujar petugas Bagian Perhubungan, Solihamto kepada detikcom, Minggu (7/9/2008).

Hanya dalam hitungan menit saja, api sudah dapat dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran. Namun Dinas Pemadam Kebakaran belum bisa menaksir berapa kerugian yang diakibatkan lalapan api tersebut. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

M Qodari Menilai Positif Janji Partai Anti Korupsi

•September 7, 2008 • Leave a Comment

Partai politik beramai-ramai melakukan janji anti korupsi. Pengamat politik pun ikut berkomentar.

“Sebuah kecenderungan yang positif. Artinya partai politik menyadari kalau masyarakat punya harapan baru,” ujar pengamat politik, M Qodari kepada detikcom, Minggu (7/9/2008).

Lebih jauh Qodari menilai partai politik pun akan lebih berhati-hati dalam memilih anggotanya yang akan mencalonkan diri dalam pencalonan legislatif.
Hal tersebut dinilainya sangat penting.

“Karena partai politik jadi sumber rekrutmen jabatan-jabatan politik,” ujarnya.

Qodari juga menilai dengan adanya komitmen partai politik untuk tidak berkorupsi akan mendongkrang citra partai politik. Partai politik akan mendapat perhatian dari pendukungnya.

“Itu bisa dianggap janji publik,” ujarnya.

Apakah ini nantinya hanya janji-janji palsu parpol saja?

“Biar waktu yang buktikan. Lebih baik berkomitmen, daripada tidak sama sekali,” pungkasnya.

Ryan Siap Disidangkan

•September 7, 2008 • Leave a Comment

Kasus pembunuhan berantai yang dilakukan Very Idam Henyansah alias Ryan siap diajukan ke meja hijau. Berkasnya kini sudah siap dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Depok.

“Sudah lengkap, mungkin minggu-minggu ini dilimpahkan,” ujar salah satu kuasa hukum Ryan, Nyoman Rai kepada detikcom, Minggu (7/9/2008).

Sementara itu, Nyoman memastikan bahwa persidangan Ryan akan dilakukan di Kejaksaan Negeri Depok. Hal itu mengingat pengungkapan kasus ini berawal dari terkuaknya mutilasi yang dilakukan pria gay terhadap Heri Santoso di Depok Juli lalu.

“Kami sebagai kuasa hukum melihat dari TKP sudah jelas, Ryan akan dituntut di Kejaksaan Negeri Depok. Ini juga kan prestasinya Polda Metro Jaya dalam mengungkap kasus mutilasi. Kalau tidak terungkap itu, yang di Jombang juga tidak akan terungkap,” ujarnya.

Menurutnya, masa penahanan Ryan sudah yang kedua, sudah memasuki 40 hari. Bisa dipastikan Ryan akan segera diadili.

Tak Bayar Upah, Dirut PT Panca Brother Menghilang

•September 4, 2008 • Leave a Comment

Buruh kembali menjadi korban. Upah mereka tidak dibayarkan selama 7 bulan. Sang Direktur Utama tempat mereka bekerja, kabur entah ke mana.

Itulah nasib 49 karyawan PT Panca Brother yang berkantor di Jalan Serang Km 24.5 Balaraja Tangerang, Banten itu. Merasa dirugikan oleh Yudi Harto Salim sebagai Direktur Utama, mereka pun melapor ke Polda Metro Jaya.

“Dia (Yudi) tidak diketahui rimbanya sejak Januari 2008,” kata Kuasa Hukum buruh, Viktor Dedy Sukma ketika dihubungi Detikcom, Kamis (04/09/08).

Viktor mengatakan, persoalan antara direksi PT Panca Brother dan karyawan ini sebenarnya sudah diupayakan untuk diselesaikan. Namun Yudi, saat itu, tidak mau bermusyawarah.

Bahkan saat Suku Dinas Tenaga Kerja Tangerang memanggil Yudi, sang bos tetap tak merespons. “Pimpinan sudah dipanggil tiga kali oleh Suku Dinas, namun tidak sekalipun pimpinan perusahaan tersebut memenuhi panggilan dari Suku Dinas,” ujar
Viktor.

Akhirnya, Suku Dinas Tenaga Kerja Tangerang pun menyerah. Viktor mengatakan, mereka menyarankan para karyawan untuk melapor polisi.

“Sudin malah menyarankan untuk melaporkan ke kepolisian,” ujarnya.

Meski perusahaan sudah tidak bertanggung jawab terhadap karyawannya, ada  pekerja masih melakukan pekerjaannya sebagaimana mestinya. Ada juga yang mencari
pekerjaan lain dan pulang ke kampung halaman.

Tips Mudik dari Polda Metro Jaya

•September 4, 2008 • Leave a Comment

Lebaran tinggal dua puluh enam hari lagi. Bagi anda yang merayakannya, sebaiknya perhatikan tips-tips mudik dari Polda berikut ini.

Bagi yang tinggal di komplek perumahan, pastikan pengaturan petugas security/satpam komplek dengan sistem dan kelengkapan serta dukungan kesejahteraannya sudah dikoordinasikan dengan atau oleh manajemen.

“Bagi yang tinggal di luar komplek, upayakan berkoordinasi untuk mengaktifkan pelaksanaan kemanan lingkungan atau setidak-tidaknya menitipkan rumah yang akan ditinggal kepada tetangga/RT, RW setempat atau kantor polisi terdekat,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes I Ketut Untung Yoga kepada wartawan, Kamis (04/09/08).

Selain itu, Ketut juga menyarankan kepada para pemudik untuk memastikan pintu rumah benar-benar terkunci, serta jendela-jendela juga agar dipastikan tertutup rapat. Kemudian, pastikan untuk menyalakan lampu dibagian luar rumah agar memudahkan pengawasan di malam hari.

“Dan untuk mencegah adanya kebakaran, jangan lupa untuk mematikan kompor, peralatan listrik, kompor gas dan benda-benda lain yang bisa menimbulkan api,” ujarnya.

Ketut juga menghimbau agar memberikan nomor telepon genggam yang bisa dihubungi apabila ada hal-hal darurat kepada tetangga atau RT/RW serta kantor polisi terdekat.

“Dan jangan lupa untuk berdoa sebelum berangkat. Demi keselamatan dan keamanan, agar sekiranya tips-tips ini diperhatikan,” imbuhnya.

Agus Hamonangan: Milis Ini Bukan Bagian dari Pers

•September 4, 2008 • 1 Comment

Moderator Milis Forum Pembaca Kompas, Agus Hamonangan diperiksa hari ini oleh Satuan Kriminal Khusus, Polda Metro Metro Jaya. Agus dibei 12 pertanyaan terkait postingan artikel dari Narliswandi Piliang alias iwan Piliang. Salah satunya adalah apakah milis yang dia buat tersebut merupakan bagian dari pers atau bukan.

“Saya diperiksa seputar tanggung jawab moderator dalam milis dan prosedur pengiriman email,” ujar Moderator Milis Forum Pembaca Kompas, Agus Hamonangan, Jakarta, Kamis (04/09/08).

Selain itu, Agus yang didampingi oleh kuasa hukumnya, Nurhidayat menerangkan pemeriksaan terhadap dirinya sebagai saksi dikonfrontir seputar tanggung jawab content serta milis tersebut bagian dari pers atau bukan. Agus menjelaskan bahwa tanggung jawab content bukan tanggung jawabnya, namun hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pengirim.

Agus juga membeberkan bahwa milis yang dibentuknya sejak Juni empat tahun lalu tidak ada kaitannya dengan pers sama sekali. Bahkan Agus sendiri, profesinya sehari-hari adalah sebagai wiraswasta.

“Ini murni forum untuk pembaca Kompas, siapapun boleh bersuara disana, asal tidak menyinggung soal SARA,” ujar pria berkaca mata itu.

Tulisan Iwan Piliang dalam milis pada 20 juni 2008 lalu menimbulkan gugatan dari Alvin Lie. Dalam tulisannya tersebut, Iwan menuliskan bahwa PAN meminta uang sebesar Rp 2 Triliun kepada Adaro agar DPR tidak lakukan hak angket yang akan menghambat IPO Adaro. Bahkan Alvin Lie datang ke Kantor Adaro temui Teddy P Rahmat. Menurut Sumber, Alvin meminta uang sebesar Rp 6 Triliun, terakhir Rp 1 Miliar untuk dirinya.

Atas tulisannya tersebut, Alvin Lie pada 14 Juli 2008 lalu melaporkan Iwan Piliang ke Polda Metro Jaya. Anggota DPR Komisi VII, Fraksi Pan ini merasa tercemarkan nama baiknya. Iwan Piliang sendiri belum ditetapkan jadi tersangka.

Police Wanna Be

•July 14, 2008 • Leave a Comment

Jakarta (14/07)

Pagi ini sejumlah orang yang tengah menunggu bus untuk menuju ke tempat kerjanya masing-masing, termasuk saya, dikejutkan oleh teriakan seorang lelaki setengah baya, berbadan kurus, kulit hitam serta mengenakan seragam dari salah satu aparat keamanan pemerintah, yaitu Polisi. Polisi ini pun dipersenjatai dengan satu bilah ranting pohon dan juga peluit untuk melengkapinya.

Setiap pagi, polisi ini memang berjaga-jaga di pos tersebut, tidak ada tindakan aneh yang mencengangkan saya selama ini, tapi kali ini polisi tersebut berprilaku agak lain dari biasanya.

“Priiiiiiiitttt……”teriakan peluit yang memekakan telinga keluar dari Polisi tersebut. Sambil mengacung-acungkan senjatanya-ranting tadi- polisi ini berteriak “Mundurin….mundurin bajajnya”. Tidak hanya itu, polisi tersebut memukul bagian pintu dari bajaj tersebut. Si sopir bajajpun hanya terdiam, tidak berbuat sesuatu yang bermaksud menentang sikap polisi tersebut. Mungkin karena sopir tersebut takut akan polisi tersebut.

Sambil berjalan menyusuri pinggiran jalan depan halte busway Juanda, polisi ini kembali mengacungkan senjatanya-ranting tadi- untuk membubarkan sebagian sopir bajaj lainnya yang tengah mengantri untuk mendapatkan penumpang di sekitar jalan Juanda tersebut.

“Woi….mundurin…mundurin….” teriaknya lagi dengan ekspresinya yang sedang kesal itu. Setelah peringatannya tidak digubris oleh sebagian sopir bajaj tersebut, kemudian polisi tersebut mengambil satu kursi kecil yang terbuat dari alumunium dan menaruhnya di depan pos polisi, tepat di bahu jalan. Namun tidak sempat polisi terbeut mendudukinya, dia kemudian membalikkan badannya ke kantor pos polisi sambil memberi hormat pada “rekannya” yang lain. Kursi tadi, dibawanya kembali ke teras kantor polisi. Tampaknya polisi ini kebingungan, pikirku.

Kembali lagi ke jalanan sambil mengatur lalu lintas, polisi ini pun berbaik hati membantu orang-orang yang akan menyebrang. Sambil meniup peluit dan mengangkat lima jarinya, dia berhasil memberhentikan kendaraan-kendaraan yang tengah melaju di jalan tersebut. Maklum, tidak ada rambu lalu lintas untuk penyebrang jalan di sekitar situ.

Sementara itu, “rekannya” yang lain tengah asyik menyeruput secangkir kopi dan menyantap sarapan pagi sambil membaca koran. Polisi yang satu ini patut diacungi jempol karena dia sudah bersiaga sejak pagi mengatur lalu lintas sekitar Jalan Juanda yang sering kali membuat kemacetan.

Ck..ck..ck…salut…salut, tindakan yang luar biasa karena polisi yang tengah mengemban tugasnya ini bukanlah polisi sungguhan, tapi hanyalah police wanna be, seorang lelaki yang menginginkan menjadi polisi sampai-sampai dia nekat memakai seragam polisi -entah darimana dia mendapatkannya- tapi satu hal yang patut kita hormati dan hargai dari orang ini adalah rasa nasionalisme-nya yang tinggi, semangatnya yang membara, meskipun mungkin sebagian orang menganggapnya gila, tapi tidak bagiku. Lebih gila lagi polisi yang seharusnya menjalankan tugasnya malah berleha-leha dan malas-malasan di dalam posnya.

Life for Rent

•June 24, 2008 • 1 Comment

I haven’t ever really found a place that I call home
I never stick around quite long enough to make it
I apologize that once again I’m not in love
But it’s not as if I mind
that your heart ain’t exactly breaking

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

I’ve always thought
that I would love to live by the sea
To travel the world alone
and live more simply
I have no idea what’s happened to that dream
Cos there’s really nothing left here to stop me

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

If my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

While my heart is a shield and I won’t let it down
While I am so afraid to fail so I won’t even try
Well how can I say I’m alive

If my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine