Jakarta (14/07)
Pagi ini sejumlah orang yang tengah menunggu bus untuk menuju ke tempat kerjanya masing-masing, termasuk saya, dikejutkan oleh teriakan seorang lelaki setengah baya, berbadan kurus, kulit hitam serta mengenakan seragam dari salah satu aparat keamanan pemerintah, yaitu Polisi. Polisi ini pun dipersenjatai dengan satu bilah ranting pohon dan juga peluit untuk melengkapinya.
Setiap pagi, polisi ini memang berjaga-jaga di pos tersebut, tidak ada tindakan aneh yang mencengangkan saya selama ini, tapi kali ini polisi tersebut berprilaku agak lain dari biasanya.
“Priiiiiiiitttt……”teriakan peluit yang memekakan telinga keluar dari Polisi tersebut. Sambil mengacung-acungkan senjatanya-ranting tadi- polisi ini berteriak “Mundurin….mundurin bajajnya”. Tidak hanya itu, polisi tersebut memukul bagian pintu dari bajaj tersebut. Si sopir bajajpun hanya terdiam, tidak berbuat sesuatu yang bermaksud menentang sikap polisi tersebut. Mungkin karena sopir tersebut takut akan polisi tersebut.
Sambil berjalan menyusuri pinggiran jalan depan halte busway Juanda, polisi ini kembali mengacungkan senjatanya-ranting tadi- untuk membubarkan sebagian sopir bajaj lainnya yang tengah mengantri untuk mendapatkan penumpang di sekitar jalan Juanda tersebut.
“Woi….mundurin…mundurin….” teriaknya lagi dengan ekspresinya yang sedang kesal itu. Setelah peringatannya tidak digubris oleh sebagian sopir bajaj tersebut, kemudian polisi tersebut mengambil satu kursi kecil yang terbuat dari alumunium dan menaruhnya di depan pos polisi, tepat di bahu jalan. Namun tidak sempat polisi terbeut mendudukinya, dia kemudian membalikkan badannya ke kantor pos polisi sambil memberi hormat pada “rekannya” yang lain. Kursi tadi, dibawanya kembali ke teras kantor polisi. Tampaknya polisi ini kebingungan, pikirku.
Kembali lagi ke jalanan sambil mengatur lalu lintas, polisi ini pun berbaik hati membantu orang-orang yang akan menyebrang. Sambil meniup peluit dan mengangkat lima jarinya, dia berhasil memberhentikan kendaraan-kendaraan yang tengah melaju di jalan tersebut. Maklum, tidak ada rambu lalu lintas untuk penyebrang jalan di sekitar situ.
Sementara itu, “rekannya” yang lain tengah asyik menyeruput secangkir kopi dan menyantap sarapan pagi sambil membaca koran. Polisi yang satu ini patut diacungi jempol karena dia sudah bersiaga sejak pagi mengatur lalu lintas sekitar Jalan Juanda yang sering kali membuat kemacetan.
Ck..ck..ck…salut…salut, tindakan yang luar biasa karena polisi yang tengah mengemban tugasnya ini bukanlah polisi sungguhan, tapi hanyalah police wanna be, seorang lelaki yang menginginkan menjadi polisi sampai-sampai dia nekat memakai seragam polisi -entah darimana dia mendapatkannya- tapi satu hal yang patut kita hormati dan hargai dari orang ini adalah rasa nasionalisme-nya yang tinggi, semangatnya yang membara, meskipun mungkin sebagian orang menganggapnya gila, tapi tidak bagiku. Lebih gila lagi polisi yang seharusnya menjalankan tugasnya malah berleha-leha dan malas-malasan di dalam posnya.
Recent Comments