Jakarta, 24 Januari 2008
Siang itu, cuaca di sekitar Jakarta Utara terasa begitu menyengat kulitku. Hari itu aku diberi tugas untuk ke kantor Pajak Pratama Sunter yang berada di Plumpang. Permohonan untuk kendaraan operasional belum juga dikabulkan, yah…terpaksa aku menggunakan Metromini. Untung aku bawa jaket, kalo ngga…mungkin kulitku sudah terbakar. Asap yang dihasilkan kendaraan2 besar pun menyelundup masuk melalui hidungku. Tanganku memberhintak sebuah metromini menuju kantor Pajak, lalu aku langkahkan kaki kananku dan aku memegang handle yang sudah berkarat.Tidak ada tempat duduk lain yang kosong selain di jok bagian belakang. Akupun duduk disitu.
Tak berapa lama, seorang ibu kira2 berumur 45 tahun menaiki metromini yang aku tumpangi. Dengan sehelai kerudung, kaos biru lengan panjang yang kucel dan celana jeans yang belel dan sobek di bagian ujung kakinya. Kemudian ibu tersebut melantunkan sebuah nyanyian, yang aku sendiri tidak paham dengan kata-katanya.
Cuma lima menit ibu itu melantunkan lagu, akhirnya dia mengeluarkan sebuah kantong plastik bekas kemasan permen dan menyodorkannya ke setiap penumpang. Uangku waktu itu hanya tertinggal Rp.48.000 saja sampai akhir bulan, sampai aku terima gajiku nanti. Kemudian tiba giliranmenyodorkan bungkusan itu kepadaku. Lalutanganku menolaknya. Tak satupun dari penumpang yang mau menyumbangkan uangnya seratus perakpun saat itu, termasuk aku.
Setelah ibu itu turun dari metro mini tersebut, pikiranku langsung tertuju pada seseorang yang tidak pernah aku temui selama dua tahun setelah aku di jakarta ini, yaitu Ibuku. Ibuku mempunyai perawakan seperti ibu tersebut, kecil, kurus, kadang ibuku juga memakai baju tanpa mengenal sisi kelayakan, meskipun sudah bolong, ibu pasti merajutnya dan memakainya kembali.Tak terasa, akupun menitikkan air mataku,dan aku segera menghentikan metro mini yang kutumpangi tersebut. Aku berlari mengejar ibu itu, dan……
Alhamdulillah, aku akhirnya menemukannya, sedang duduk disebuah tembok dibawah pohon di sepanjang trotoar, tertunduk dengan lesu, memandangi bungkusannya yang kosong, lalu menyapu keringat di dahinya. Aku berhenti sejenak dan memandangi Ibu tersebut, dan aku menghapus airmataku, lalu akupun menyodorkan uangku sebesar Rp.40.000 (Rp.8000 aku pakai untuk ongkos melanjutkan perjalananku). Lalu ibu tersebut mengangkat kepalanya kearahku, dan ibu tersebut tersenyum gembira menerima pemberianku. Belum sempat ibu itu berkata apa2, aku langsung pergi karena tak kuat menahan air mata.
Itulah penggalan kisah yang aku alami di jalanan di Ibukota Jakarta ini. Betapa durhakanya aku sebagai seorang anak yang tidak pernah mengunjungi ibunya walau hanya sebentar saja. Namun aku juga akan merasa lebih berdosa apabila aku membiarkan orang lain melewati harinya dengan perasaan luka yang sama.
To My Mom:” I’m so sory mom…i can’t make you happy. But i promise, i’ll reach the star to make you happy”

Hanya do’a yang bisa aku sampaikan melalui kedua tangan ini untuk ibu dan ayahku…
Semoga selalu diberikan kebahagiaan kepada keduanya…
Jangan lepasakan “tangan” kasih sayangmu keapda mereka…
Jangan ambil nyawa mereka sebelum aku bisa berbakti kepada keduanya…
Amin.
cheeriopard said this on January 24, 2008 at 10:14 am
Luar biasa, saya yakin kebaikan mba kepada ibu2 itu akan Tuhan kembalikan kepada kebahagiaan ibu mba yang berada entah dimana itu.
undercover said this on January 24, 2008 at 1:15 pm
Kalau ada penerbit yang mau menerbitkan tulisan saya, pleeeaaseee….add saya
cheeriopard said this on January 26, 2008 at 10:06 am