Police Wanna Be

•July 14, 2008 • No Comments

Jakarta (14/07)

Pagi ini sejumlah orang yang tengah menunggu bus untuk menuju ke tempat kerjanya masing-masing, termasuk saya, dikejutkan oleh teriakan seorang lelaki setengah baya, berbadan kurus, kulit hitam serta mengenakan seragam dari salah satu aparat keamanan pemerintah, yaitu Polisi. Polisi ini pun dipersenjatai dengan satu bilah ranting pohon dan juga peluit untuk melengkapinya.

Setiap pagi, polisi ini memang berjaga-jaga di pos tersebut, tidak ada tindakan aneh yang mencengangkan saya selama ini, tapi kali ini polisi tersebut berprilaku agak lain dari biasanya.

“Priiiiiiiitttt……”teriakan peluit yang memekakan telinga keluar dari Polisi tersebut. Sambil mengacung-acungkan senjatanya-ranting tadi- polisi ini berteriak “Mundurin….mundurin bajajnya”. Tidak hanya itu, polisi tersebut memukul bagian pintu dari bajaj tersebut. Si sopir bajajpun hanya terdiam, tidak berbuat sesuatu yang bermaksud menentang sikap polisi tersebut. Mungkin karena sopir tersebut takut akan polisi tersebut.

Sambil berjalan menyusuri pinggiran jalan depan halte busway Juanda, polisi ini kembali mengacungkan senjatanya-ranting tadi- untuk membubarkan sebagian sopir bajaj lainnya yang tengah mengantri untuk mendapatkan penumpang di sekitar jalan Juanda tersebut.

“Woi….mundurin…mundurin….” teriaknya lagi dengan ekspresinya yang sedang kesal itu. Setelah peringatannya tidak digubris oleh sebagian sopir bajaj tersebut, kemudian polisi tersebut mengambil satu kursi kecil yang terbuat dari alumunium dan menaruhnya di depan pos polisi, tepat di bahu jalan. Namun tidak sempat polisi terbeut mendudukinya, dia kemudian membalikkan badannya ke kantor pos polisi sambil memberi hormat pada “rekannya” yang lain. Kursi tadi, dibawanya kembali ke teras kantor polisi. Tampaknya polisi ini kebingungan, pikirku.

Kembali lagi ke jalanan sambil mengatur lalu lintas, polisi ini pun berbaik hati membantu orang-orang yang akan menyebrang. Sambil meniup peluit dan mengangkat lima jarinya, dia berhasil memberhentikan kendaraan-kendaraan yang tengah melaju di jalan tersebut. Maklum, tidak ada rambu lalu lintas untuk penyebrang jalan di sekitar situ.

Sementara itu, “rekannya” yang lain tengah asyik menyeruput secangkir kopi dan menyantap sarapan pagi sambil membaca koran. Polisi yang satu ini patut diacungi jempol karena dia sudah bersiaga sejak pagi mengatur lalu lintas sekitar Jalan Juanda yang sering kali membuat kemacetan.

Ck..ck..ck…salut…salut, tindakan yang luar biasa karena polisi yang tengah mengemban tugasnya ini bukanlah polisi sungguhan, tapi hanyalah police wanna be, seorang lelaki yang menginginkan menjadi polisi sampai-sampai dia nekat memakai seragam polisi -entah darimana dia mendapatkannya- tapi satu hal yang patut kita hormati dan hargai dari orang ini adalah rasa nasionalisme-nya yang tinggi, semangatnya yang membara, meskipun mungkin sebagian orang menganggapnya gila, tapi tidak bagiku. Lebih gila lagi polisi yang seharusnya menjalankan tugasnya malah berleha-leha dan malas-malasan di dalam posnya.

Life for Rent

•June 24, 2008 • 1 Comment

I haven’t ever really found a place that I call home
I never stick around quite long enough to make it
I apologize that once again I’m not in love
But it’s not as if I mind
that your heart ain’t exactly breaking

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

I’ve always thought
that I would love to live by the sea
To travel the world alone
and live more simply
I have no idea what’s happened to that dream
Cos there’s really nothing left here to stop me

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

If my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

While my heart is a shield and I won’t let it down
While I am so afraid to fail so I won’t even try
Well how can I say I’m alive

If my life is for rent and I don’t learn to buy
Well I deserve nothing more than I get
Cos nothing I have is truly mine

“My Immortal”

•June 24, 2008 • 1 Comment

Created by: Emy Lee

I’m so tired of being here
Suppressed by all my childish fears
And if you have to leave
I wish that you would just leave
‘Cause your presence still lingers here
And it won’t leave me alone

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

When you cried I’d wipe away all of your tears
When you’d scream I’d fight away all of your fears
And I held your hand through all of these years
But you still have
All of me

You used to captivate me
By your resonating light
Now I’m bound by the life you left behind
Your face it haunts
My once pleasant dreams
Your voice it chased away
All the sanity in me

These wounds won’t seem to heal
This pain is just too real
There’s just too much that time cannot erase

I’ve tried so hard to tell myself that you’re gone
But though you’re still with me
I’ve been alone all along


Hidup Di Jakarta Ternyata “Mudah”

•June 18, 2008 • No Comments

Ternyata hidup di Jakarta ini gampang. Banyak peluang usaha yang bisa kita dapatkan di Jakarta ini. Tidak perlu memiliki banyak modal, pendidikan yang tinggi dan semangat yang besar. Anda bisa jadi pengemis, pemulung, pencopet mungkin??

Satu kisah dalam perjalanan saya, waktu itu saya baru saja selesai melakukan psikotes (tes ke-2 dari serangkaian tes di salah satu perusahaan media) di daerah Buncit. Busway menjadi salah satu alternatif transportasi saya, mengingat tidak banyak waktu kalau harus terjebak dikemacetan Jakarta dan yang terpenting, lebih ekonomis dibanding saya harus naik turun dari satu Metromini ke Metromini yang lainnya.

Saya sempat transit di Halte Halimun untuk selanjutnya melakukan perjalanan menuju Halte Matraman. Syukurlah, saya mendapatkan tempat duduk. Dan terkejutnya saya ketika saya mencoba memalingkan pandangan kearah kiri dekat dengan pintu busway bagian depan. Sesosok lelaki setengah baya tengah duduk diatas kursi rodanya. Sesaat saya merasa iba kepada sosok pria tersebut. Tampangnya pun memang memilukan. Pakaiannya pun tampak lusuh dan dekil, dengan peci yang bladus melekat diatas kepalanya. Diapun sempat menggerakkan kaki kirinya yang lumpuh. Sesaat saya berpikir kalau si pria tersebut adalah Pengemis (karena tampak kaleng bekas susu dipegangnya).

Alangkah terkejutnya saya, ketika pria tersebut mengeluarkan sejumlah uang yang cukup besar dari saku celana dan saku bajunya. Kemudian dia menghitung-hitung uangnya. Mungkin jumlahnya seratus ribu lebih. Tidak berapa lama kemudaian pria itupun mengeluarkan handphone Nokia N73 (sayapun bahkan tidak memilikinya) dari saku celana bagian belakang. Dia saat itu tengah asyik menghitung uangnya sampai-sampai beberapa kali kursi rodanya sempat menggelinding ke arah lain. Dan diapun memperlihatkan raut muka yang seakan-akan berbicara “Nih….gue juga punya duit banyak”.

Ck…ck…ck…..

Begitu mudah ternyata mencari uang di Jakarta, tanpa harus membanting tulang, dalam beberapa jam saja duduk di pinggiran toko atau berpenas-panasan di pinggir jalan, kita akan dengan mudahnya mendapatkan uang.

Kejamnya Jakarta ternyata tidak mengubah pola hidup dan pola pikir sebagian orang. Sebagian justru ada yang memanfaatkan kondisi tersebut untuk lebih bersantai-santai.

Hmm……hmm……hmm…….

stop diskriminasi gender

•June 1, 2008 • No Comments

Menyesalkah kamu menjadi seorang perempuan?

Bagi kebanyakan orang, perempuan itu dianggap lemah, tidak bisa apa-apa. Mungkin pola pikir seperti itu sudah tidak berlaku lagi di jaman seperti ini. Banyak perempuan yang bisa menjadi “lebih” dari laki-laki.

kita ambil contoh, Ibu, adalah seorang sosok perempuan yang perkasa, yang mengandung kita selama +/_ 9 bulan lamanya, hal itu tentu saja tidak bisa dilakukan oleh seorang laki-laki bukan? Ada beberapa tokoh perempuan di Indonesia misalnya saja Megawati yang mampu memimpin bangsa, padahal dia adalah seorang perempuan, serang istri dari suaminya dan seorang ibu pula, dengan berbagai status yang disandangnya mampu membuktikan bahwa seorang perempuan pun bisa menjadi pemimpin, bukan hanya laki-laki.

Pelacur sekalipun, dia adalah perempuan perkasa, yang harus rela banting tulang memberikan kepuasan seks bagi para lelaki hidung belang, para lelaki yang tidak menghargai perempuan, bahkan bisa dibilang tidak menghargai ibunya sebagai perempuan, sama seperti pelacur yang juga perempuan.

Kalau ditanya, kenapa perempuan mau menjadi pelacur? siapa sich yang mau hidupnya berakhir menjadi seorang pelacur? Tidak ada yang menginginkan itu, bahkan mungkin tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran perempuan bahwa suatu saat kelak hidupnya akan menjadi seorang pelacur. lalu kenapa pula harus perempuan yang disalahkan ketika dirinya menjadi pelacur? Bukankah laki-lakipun membutuhkan halusnya belaian perempuan? Mengapa laki-laki mengingkari apa yang menjadi tanggung jawabnya terhadap perempuan ketika perempuan terjerembab kedalam masalah yang disebabkan oleh laki-laki itu sendiri?

Sadarlah kaum laki-laki bahwa kamu sekalian bukanlah apa-apa tanpa adanya perempuan. Perempuan juga punya hati, bahkan lebih sensitif dari putri malu. Perempuan butuh disayangi, perempuan butuh dihargai dan yang paling utama adalah perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki.

so, hargailah perempuan, berikan tempat yang paling istimewa dikehidupanmu, Stop diskriminasi gender. Perempuan bukanlah “pembantu”, perempaun bukanlah “kuli”, perempuan bukanlah “pelacur”.

Buat para perempuan, jangan menyesal jadi perempuan.

ada yang tidak setuju dengan saya?

JAKARTA TAK SEINDAH IMPIAN

•February 25, 2008 • 1 Comment

 

Disaat kondisi ekonomi sekarang ini yang serba sulit, membuka banyak kemungkinan berjuta-juta penduduk Indonesia untuk mencari peruntungan nasibnya. Ada yang beruntung, tapi tidak sedikit pula yang mengalami kegagalan, keterpurukan dan kepedihan hidup di zaman yang serba kompleks ini.

 

Berbagai cara dilakukan banyak orang untuk meraih masa depannya di Ibukota Jakarta ini. Gemerlap kota Jakarta memang menggiurkan penduduk non pribumi untuk datang ke Jakarta. Bagi mereka yang mempunyai “modal” untuk bisa bertahan hidup di Jakarta memang dijanjikan dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas. Tapi ternyata, tidak seindah dan semudah itu mencari pekerjaan di Jakarta. Banyak akhirnya penduduk luar Jakarta yang tidak seberuntung itu dalam mencari nafkah. Yang akhirnya harus menggantungkan hidupnya di tempat-tempat pembuangan sampah, di pinggiran jalan besar Ibukota, di bawah kolong jembatan, di jembatan penyeberangan jalan dan diberbagai sudut kota lainnya.

 

Komunitas gelandangan dan para tunawisma tampaknya semakin mewabah di kota Jakarta ini, sehingga hal ini menuntut pihak pemerintah untuk bertindak tegas, salah satunya dengan cara mengurangi adanya urbanisasi. Tapi hal itu tidak menyurutkan para penduduk luar Jakarta untuk tetap mencari kerja di Jakarta. Bagaimana tidak? Semua berpusat di Jakarta, dari mulai perekonomian, sosial budaya dan perkembangan kemajuan teknologi serta banyak lagi. Tidak ada pemerataan di daerah-daerah. Atau pemerintah daerahnya sendiri yang tidak mau berupaya untuk menjadikan daerahnya lebih maju?

 

Berbagai carapun dilakukan para gelandangan dan tunawisma ini untuk dapat tetap bertahan hidup di Jakarta, hanya untuk sekedar mencari makan, untuk menyambung hidupnya saja. Ada yang menjadi musisi jalanan alias pengamen, ada yang mencoba mengubah penampilannya seperti orang cacat, ada yang berdakwah dari bis satu ke bis lainnya mengatas namakan suatu agama, yayasan social atau kelompok tertentu demi sejumlah uang. Bahkan ada ibu yang secara terang-terangan mengekploitasi anak dibawah umur.

Masa kecil mereka yang seharusnya berada di lingkungan yang aman, penuh dengan kegembiraan bersama teman-teman seusianya dan mengisi hari-harinya dengan belajar dan bermain, tidak dapat mereka rasakan karena kondisi ekonomi orangtuanya yang tidak bisa menjamin masa depan mereka. Mereka harus menghabiskan masa kecil mereka di tengah-tengah antrian mobil dalam kemacetan, menghisap udara dari kepulan asap kendaraan bermotor, sepertinya sudah biasa bagi anak-anak kecil itu.

 

Mencoba menembangkan alunan lagu dari satu bis ke bis lainnya hanya untuk mencari sesuap nasi atau sekedar membeli makanan kecil, atau memang mereka bekerja untuk orangtuanya sementara orangtuanya hanya menunggui mereka, bermalas-malasan tidur dibawah kolong jembatan sementara anaknya harus berada di tengah hiruk pikuk kendaraan bermotor yang setiap saat bisa saja menghantarkan mereka ke arah maut?

 

Sekali lagi, kita tidak bisa menyalahkan keadaan mereka yang terjebak dalam kesulitan perekonomian. Tidak kita pungkiri, tidaklah mudah mencari nafkah di Ibukota yang luas ini, tidak mudah juga bagi mereka untuk menghabiskan setiap harinya di jalanan. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi.

 

Tapi sepertinya, di tengah persaingan serta semaraknya perkembangan teknologi informasi yang memacu pesatnya perkembangan di Indonesia ini membuat sebagian warga lebih memilih mengemis di jalanan ketimbang mencoba mencari nafkan yang lebih layak tapi harus rela menahan lapar. Bahkan bagi sebagian orang yang memiliki mentalitas yang tipis bisa memberikan jalan pintas mereka dalam mencari nafkah.

 

Harus kita akui, bahwasannya kriminalitas yang terjadi semakin meningkat belakangan ini banyak sekali dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi mereka, pendidikan yang kurang, perkembangan sosial dan kurangnya iman dari masing-masing individu menghantarkan banyak penduduk kedalam jeruji penjara. Pembunuhan yang semakin marak sepertinya sudah menjadi “santapan” informasi bagi setiap warga Jakarta.

 

Urusannya hanya perut. Ya, begitulah nasib bagi sebagian kaum miskin di tengah kota Jakarta ini. Adakah upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran serta perubahan sosial yang begitu drastis? Pemerintah sepertinya hanya sibuk dengan urusan tata kota yang memaksa para tunawisma untuk mengangkat kaki dari kolong jembatan tempat tinggalnya, penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dianggap mengganggu kelancaran di sebagian badan jalan di Ibukota, upaya-upaya penggusuran rumah susun yang dianggap sudah “tidak enak” lagi dipandang dan berbagai upaya untuk “menyingkirkan” segala sesuatu yang dianggap kurang layak bagi Jakarta.

 

Kota yang bersih dan indah memang menjadi dambaan oleh setiap penduduk Jakarta. Satu masalah dapat ditanggulangi, bukan berarti masalah terselesaikan sampai situ saja, ada banyak permasalahan lain yang akan bermunculan akibat dari satu kebijakan tersebut. Misalnya saja, kebijakan pemerintah untuk membongkar lahan yang selama ini menjadi tempat penjualan keramik yang mempunyai harga relative miring di kawasan Rawasari beberapa hari lalu karena lahan tersebut akan dijadikan Lahan Terbuka Hijau, ternyata memunculkan masalah yang lain, dimana banyak penduduk yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan keramik disana terancam usahanya bangkrut, bukan itu juga merekapun harus mencari lahan utnuk tempat tinggal mereka yang baru, karena rumah mereka akan diratakan. Persoalan ini akan semakin rumit, manakala pemerintah tidak memberikan kompensasi atas penggusuran tersebut. Akan ada banyak pihak yang protes.

 

Hal ini juga akan menimbulkan masalah baru yang memang sudah menjadi masalah lama, dimana mereka terancam menjadi gelandangan. Sepertinya permasalahan di Ibukota Jakarta ini tidak ubahnya seperti panu, bila tidak dituntaskan sampai ke akarnya, panu itu tidak akan hilang tapi malah makin meluas.

 

Pemerintah lebih berkonsentrasi terhadap situasi politik dalam negrinya ketimbang memikirkan bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan, memberikan pendidikan gratis bagi anak2 kurang mampu, mengatasi bencana yang akhir2 ini terjadi, kesulitan pangan di beberapa daerah, wabah penyakit dsb.

Upaya apa lagi yang bisa pemerintah lakukan sepertinya selalu menemui dead lock. Masalah tidak pernah bisa terselesaikan dengan baik di negeri ini. Pergantian kekuasaan pun sepertinya tidak akan bisa menyelesaikan masalah di negeri ini, selama tidak ada kesadaran dari masing-masing individu untuk tetap menjaga keseimbangan dan kesejajaran.

Kini Jakarta tak seindah impian sebagian orang yang mencoba menggantungkan hidup di kota ini.

 

Kata Mutiara

•February 6, 2008 • No Comments

” Jangan Mencari Kawan yang membuatmu merasa nyaman, tapi carilah kawan yang memaksamu untuk berkembang” Thomas

Continue reading ‘Kata Mutiara’

•January 24, 2008 • 3 Comments

Jakarta, 24 Januari 2008

Siang itu, cuaca di sekitar Jakarta Utara terasa begitu menyengat kulitku. Hari itu aku diberi tugas untuk ke kantor Pajak Pratama Sunter yang berada di Plumpang. Permohonan untuk kendaraan operasional belum juga dikabulkan, yah…terpaksa aku menggunakan Metromini. Untung aku bawa jaket, kalo ngga…mungkin kulitku sudah terbakar. Asap yang dihasilkan kendaraan2 besar pun menyelundup masuk melalui hidungku. Tanganku memberhintak sebuah metromini menuju kantor Pajak, lalu aku langkahkan kaki kananku dan aku memegang handle yang sudah berkarat.Tidak ada tempat duduk lain yang kosong selain di jok bagian belakang. Akupun duduk disitu.

Tak berapa lama, seorang ibu kira2 berumur 45 tahun menaiki metromini yang aku tumpangi. Dengan sehelai kerudung, kaos biru lengan panjang yang kucel dan celana jeans yang belel dan sobek di bagian ujung kakinya. Kemudian ibu tersebut melantunkan sebuah nyanyian, yang aku sendiri tidak paham dengan kata-katanya.

Cuma lima menit ibu itu melantunkan lagu, akhirnya dia mengeluarkan sebuah kantong plastik bekas kemasan permen dan menyodorkannya ke setiap penumpang. Uangku waktu itu hanya tertinggal Rp.48.000 saja sampai akhir bulan, sampai aku terima gajiku nanti.  Kemudian tiba giliranmenyodorkan bungkusan itu kepadaku. Lalutanganku menolaknya. Tak satupun dari penumpang yang mau menyumbangkan uangnya seratus perakpun saat itu, termasuk aku.

Setelah ibu itu turun dari metro mini tersebut, pikiranku langsung tertuju pada seseorang yang tidak pernah aku temui selama dua tahun setelah aku di jakarta ini, yaitu Ibuku. Ibuku mempunyai perawakan seperti ibu tersebut, kecil, kurus, kadang ibuku juga memakai baju tanpa mengenal sisi kelayakan, meskipun sudah bolong, ibu pasti merajutnya dan memakainya kembali.Tak terasa, akupun menitikkan air mataku,dan aku segera menghentikan metro mini yang kutumpangi tersebut. Aku berlari mengejar ibu itu, dan……

Alhamdulillah, aku akhirnya menemukannya, sedang duduk disebuah tembok dibawah pohon di sepanjang trotoar, tertunduk dengan lesu, memandangi bungkusannya yang kosong, lalu menyapu keringat di dahinya. Aku berhenti sejenak dan memandangi Ibu tersebut, dan aku menghapus airmataku, lalu  akupun menyodorkan uangku sebesar Rp.40.000 (Rp.8000 aku pakai untuk ongkos melanjutkan perjalananku).  Lalu ibu tersebut mengangkat kepalanya kearahku, dan ibu tersebut tersenyum gembira menerima pemberianku. Belum sempat ibu itu berkata apa2, aku langsung pergi karena tak kuat menahan air mata.

Itulah penggalan kisah yang aku alami di jalanan di Ibukota Jakarta ini. Betapa durhakanya aku sebagai seorang anak yang tidak pernah mengunjungi ibunya walau hanya sebentar saja. Namun aku juga akan merasa lebih berdosa apabila aku membiarkan orang lain melewati harinya dengan perasaan luka yang sama.

To My Mom:” I’m so sory mom…i can’t make you happy. But i promise, i’ll reach the star to make  you happy”

Aku dan Kesepianku….

•January 14, 2008 • 1 Comment

Senja kini berganti malam,                                                                                                                  yang tertinggal hanyalah seberkas bayangan                                                                                   gelap, kelam dan pekat………                                                                                                                sekejap kumenatap langit                                                                                                                    mendung, tak ada setitikpun ada tanda-tanda                                                                                 cahaya untuk menerangi langkahku…..

Lalu kutatap sekilas wajah yang tampak sendu                                                                           tak bersahaja, penuh kegarangan                                                                                                   Lalu aku bejalan menuju cahaya yang tak berujung                                                                   yang tak pernah kutemui….                                                                                                             diujung jalan itu……                                                                                                                          hanya aku dan bayanganku,                                                                                                           gelap, hitam dan pekat………….

Ingin kuberlari kembali                                                                                                                     tapi semua tlah menjauh…..                                                                                                              kini tinggal aku dan bayanganku, sendiri….

Sepi…..

Hampa….

Kosong….

January, 14th, 2008 ; 6.30pm

-Amelia-

Cukup sekali

•January 14, 2008 • 1 Comment

Sebagai seorang kekasih, wajar bukan kalau aku mencintaimu…..?

sebagai seorang perempuan, wajar pula bukan kalau aku menangisi kepergianmu…?

dan sebagai seorang manusia, wajar bukan kalau aku membencimu setelah apa yang kau lakukan terhadapku….?

Ini sungguh tidak adil, kau meminta pengorbananku sementara kau sendiri tidak mau berkorban untuk aku. Dan sungguh tidak adil, ketika aku mulai mencintaimu…kau malah pergi meninggalkanku….

Rasa sakit ini membakar logikaku, membuatku terpuruk, putus asa, dan penuh rasa dendam.

Menitikkan air mata, itu bukan aku…

memang itu aku, tapi semua sudah kering, kering bersama luka ini.

cukup sekali kau datang padaku…

cukup sekali kau meninggalkanku….

dan cukup sekali kau menyakitiku….

cukup…cukup…dan cukup….