Disaat kondisi ekonomi sekarang ini yang serba sulit, membuka banyak kemungkinan berjuta-juta penduduk Indonesia untuk mencari peruntungan nasibnya. Ada yang beruntung, tapi tidak sedikit pula yang mengalami kegagalan, keterpurukan dan kepedihan hidup di zaman yang serba kompleks ini.
Berbagai cara dilakukan banyak orang untuk meraih masa depannya di Ibukota Jakarta ini. Gemerlap kota Jakarta memang menggiurkan penduduk non pribumi untuk datang ke Jakarta. Bagi mereka yang mempunyai “modal” untuk bisa bertahan hidup di Jakarta memang dijanjikan dengan berbagai kenyamanan dan fasilitas. Tapi ternyata, tidak seindah dan semudah itu mencari pekerjaan di Jakarta. Banyak akhirnya penduduk luar Jakarta yang tidak seberuntung itu dalam mencari nafkah. Yang akhirnya harus menggantungkan hidupnya di tempat-tempat pembuangan sampah, di pinggiran jalan besar Ibukota, di bawah kolong jembatan, di jembatan penyeberangan jalan dan diberbagai sudut kota lainnya.
Komunitas gelandangan dan para tunawisma tampaknya semakin mewabah di kota Jakarta ini, sehingga hal ini menuntut pihak pemerintah untuk bertindak tegas, salah satunya dengan cara mengurangi adanya urbanisasi. Tapi hal itu tidak menyurutkan para penduduk luar Jakarta untuk tetap mencari kerja di Jakarta. Bagaimana tidak? Semua berpusat di Jakarta, dari mulai perekonomian, sosial budaya dan perkembangan kemajuan teknologi serta banyak lagi. Tidak ada pemerataan di daerah-daerah. Atau pemerintah daerahnya sendiri yang tidak mau berupaya untuk menjadikan daerahnya lebih maju?
Berbagai carapun dilakukan para gelandangan dan tunawisma ini untuk dapat tetap bertahan hidup di Jakarta, hanya untuk sekedar mencari makan, untuk menyambung hidupnya saja. Ada yang menjadi musisi jalanan alias pengamen, ada yang mencoba mengubah penampilannya seperti orang cacat, ada yang berdakwah dari bis satu ke bis lainnya mengatas namakan suatu agama, yayasan social atau kelompok tertentu demi sejumlah uang. Bahkan ada ibu yang secara terang-terangan mengekploitasi anak dibawah umur.
Masa kecil mereka yang seharusnya berada di lingkungan yang aman, penuh dengan kegembiraan bersama teman-teman seusianya dan mengisi hari-harinya dengan belajar dan bermain, tidak dapat mereka rasakan karena kondisi ekonomi orangtuanya yang tidak bisa menjamin masa depan mereka. Mereka harus menghabiskan masa kecil mereka di tengah-tengah antrian mobil dalam kemacetan, menghisap udara dari kepulan asap kendaraan bermotor, sepertinya sudah biasa bagi anak-anak kecil itu.
Mencoba menembangkan alunan lagu dari satu bis ke bis lainnya hanya untuk mencari sesuap nasi atau sekedar membeli makanan kecil, atau memang mereka bekerja untuk orangtuanya sementara orangtuanya hanya menunggui mereka, bermalas-malasan tidur dibawah kolong jembatan sementara anaknya harus berada di tengah hiruk pikuk kendaraan bermotor yang setiap saat bisa saja menghantarkan mereka ke arah maut?
Sekali lagi, kita tidak bisa menyalahkan keadaan mereka yang terjebak dalam kesulitan perekonomian. Tidak kita pungkiri, tidaklah mudah mencari nafkah di Ibukota yang luas ini, tidak mudah juga bagi mereka untuk menghabiskan setiap harinya di jalanan. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi.
Tapi sepertinya, di tengah persaingan serta semaraknya perkembangan teknologi informasi yang memacu pesatnya perkembangan di Indonesia ini membuat sebagian warga lebih memilih mengemis di jalanan ketimbang mencoba mencari nafkan yang lebih layak tapi harus rela menahan lapar. Bahkan bagi sebagian orang yang memiliki mentalitas yang tipis bisa memberikan jalan pintas mereka dalam mencari nafkah.
Harus kita akui, bahwasannya kriminalitas yang terjadi semakin meningkat belakangan ini banyak sekali dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi mereka, pendidikan yang kurang, perkembangan sosial dan kurangnya iman dari masing-masing individu menghantarkan banyak penduduk kedalam jeruji penjara. Pembunuhan yang semakin marak sepertinya sudah menjadi “santapan” informasi bagi setiap warga Jakarta.
Urusannya hanya perut. Ya, begitulah nasib bagi sebagian kaum miskin di tengah kota Jakarta ini. Adakah upaya pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran serta perubahan sosial yang begitu drastis? Pemerintah sepertinya hanya sibuk dengan urusan tata kota yang memaksa para tunawisma untuk mengangkat kaki dari kolong jembatan tempat tinggalnya, penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) yang dianggap mengganggu kelancaran di sebagian badan jalan di Ibukota, upaya-upaya penggusuran rumah susun yang dianggap sudah “tidak enak” lagi dipandang dan berbagai upaya untuk “menyingkirkan” segala sesuatu yang dianggap kurang layak bagi Jakarta.
Kota yang bersih dan indah memang menjadi dambaan oleh setiap penduduk Jakarta. Satu masalah dapat ditanggulangi, bukan berarti masalah terselesaikan sampai situ saja, ada banyak permasalahan lain yang akan bermunculan akibat dari satu kebijakan tersebut. Misalnya saja, kebijakan pemerintah untuk membongkar lahan yang selama ini menjadi tempat penjualan keramik yang mempunyai harga relative miring di kawasan Rawasari beberapa hari lalu karena lahan tersebut akan dijadikan Lahan Terbuka Hijau, ternyata memunculkan masalah yang lain, dimana banyak penduduk yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari berjualan keramik disana terancam usahanya bangkrut, bukan itu juga merekapun harus mencari lahan utnuk tempat tinggal mereka yang baru, karena rumah mereka akan diratakan. Persoalan ini akan semakin rumit, manakala pemerintah tidak memberikan kompensasi atas penggusuran tersebut. Akan ada banyak pihak yang protes.
Hal ini juga akan menimbulkan masalah baru yang memang sudah menjadi masalah lama, dimana mereka terancam menjadi gelandangan. Sepertinya permasalahan di Ibukota Jakarta ini tidak ubahnya seperti panu, bila tidak dituntaskan sampai ke akarnya, panu itu tidak akan hilang tapi malah makin meluas.
Pemerintah lebih berkonsentrasi terhadap situasi politik dalam negrinya ketimbang memikirkan bagaimana caranya mengentaskan kemiskinan, memberikan pendidikan gratis bagi anak2 kurang mampu, mengatasi bencana yang akhir2 ini terjadi, kesulitan pangan di beberapa daerah, wabah penyakit dsb.
Upaya apa lagi yang bisa pemerintah lakukan sepertinya selalu menemui dead lock. Masalah tidak pernah bisa terselesaikan dengan baik di negeri ini. Pergantian kekuasaan pun sepertinya tidak akan bisa menyelesaikan masalah di negeri ini, selama tidak ada kesadaran dari masing-masing individu untuk tetap menjaga keseimbangan dan kesejajaran.
Kini Jakarta tak seindah impian sebagian orang yang mencoba menggantungkan hidup di kota ini.